Aku mempunyai cerita mengenai militansi. Yaa. Mi-li-tan-si. Militansi dari seorang akhwat. Jika engkau berkenalan langsung dengannya maka kamu akan mendapatkan pancaran militansi itu langsung dari wajahnya.
Mari. Aku ceritakan mengenai militansinya :)
By the way, semoga Allah meridhoi setiap kata yang aku ketik ini sehingga manfaat akan teriring bersamanya.
Namanya, tak akan aku tuliskan di sini. Hehehe. Biarlah hanya Allah dan orang-orang terdekatnya yang mengetahui namanya. Yang terpenting adalah cerita mengenai militansinya mampu menginspirasi teman-teman sekalian.
Ia seorang kaka angkatan 2009 dari almamater SMA yang sama dengan ku. Sekarang ini beliau sedang berusaha untuk menyelesaikan tugas akhir dari kuliahnya sebagai guru bahasa Indonesia. Berikan do'a terbaik untuknya yaa, agar dimudahkan untuk menyusunnya.
"kerjaan" utama beliau memang kuliah dan ngajar. Tapi, jangan tanyakan apa side jobnya beliau, banyak sekali kawan. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain. Dari satu syuro ke syuro yang lain. Itulah side job beliau. Semua itu beliau lakukan dengan mengusung tema yang sama, tujuan yang sama, yaitu dakwah sekolah.
Setiap harinya jadwal padat merayap akan selalu menemani langkahnya. Dari mulai tugasnya sebagai mahasiswi, kemudian dilanjutkan dengan mengisi kelompok yang satu di tempat yang jauh dari lokasi kampusnya, kemudian dilanjutkan dengan syuro untuk agenda sekolah di lokasi sekolah lain dan seterusnya. Di tambah lagi dengan jeda agenda yang satu dengan yang lain tidak begitu lama mungkin hanya jeda satu atau dua jam. Kalau saya yang jadi beliau mungkin udah ngeluh seharian. Hehehe. Oh ya, si akhwat militan ini bukan rider loh. Ia angkutan umum lovers. Hehehe.
Jika seandainya dengan jadwal yang sepadat merayap itu beliau lakukan dengan motor, mungkin hal tersebut tidak akan mengherankan yaa, tapi sekali lagi si akhwat ini bukan rider alias beliau memang tidak bisa mengendarai motor. Sehingga hal tersebut lah yang menjadi militansinya. Ia pernah bercerita bahwa ia pernah syuro untuk agenda sekolah ba'da maghrib, untuk seorang angkutan lovers hal tersebut sungguhlah mengkhawatirkan, ditambah lagi rumah beliau yang jauh dan bermasalah di angkutan yang jarang. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi alasan untuknya untuk tidak hadir di syuro tersebut.
Tanpa motor. Sekali lagi tanpa motor. Ia mampu melakukan side jobnya tersebut. Berat memang. Namun beliau mampu membuktikan bahwa it's so easy if you doing it with IKHLAS :)
Dengan ikhlas beliau menjalankan semua amanah yang ada di pundaknya. Dengan senang hati dan tanpa pernah mengeluh. Karena memang yang beliau cari adalah perhatianNya bukan perhatiannya.
Dan inilah salah satu alasan mengapa aku masih suka kesal dengan mereka yang izin untuk tidak hadir syuro atau agenda lain hanya karena alasan "afwan akhi/ukhti, ana gak bisa dateng syuro karena motor ana masuk bengkel" atau "afwan akhi/ukhti, anak gak bisa dateng syuro karena motor ana dipakai adik ana"
basi kan alasan tersebut ?
Dan inilah alasan mengapa aku sangat mengagumi militansinya sebagai seorang aktifis. Tanpa ingin mencari perhatiannya tetapi mengutamakan perhatianNya. Karena perhatiannya akan teriring saat kita mampu mendapatkan perhatianNya. Dan betapa komitmennya ia dengan setiap amanah yang ada di pundaknya. Amanah memang tidak pernah salah pundak kan ?






