Ahlan Wa Sahlan

Selamat Datang di Blog Salam 5 Depok

Award SIROH 2013

Salam 5 Event

Syukuran Salam 5

Berita Alumni

Tawazun

Tausiyah

Belajar Militan

Artikel

Jumat, 31 Mei 2013

Merubah Mindset "Frame Dakwah"

Terkadang merubah frame perjuangan dakwah itu membenturkan garis haroki dengan garis ukhuwah Islamiyah yang haris tertali. Apakah ada sebuah negara yang telah menerapkan sistem ekonomi, peradilan, dan politik yang sudah mencapat tingkat yang MEYAKINKAN?? Ini memang merupakan pertanyaan yang sederhana. Tetapi, itulah lubang besar yang menganga ketika kita mengkomunkasikan Islam pada massyarakat.

Kita menjelaskan keunggulan ideologi, konsep khilafah dari starting point tang abstrak. Sementara masyarakat mengharapkan contoh aplikasi yang nyata. Kita bangga akan keunggulan di dunia maya spritual. Namun, masyarakat justru terpesona kepada yang unggul di dunia empiris.

Sadarkah kita? ketika kitta menjelaskan kehebatan Islam di masa lalu, masyarakat menyaksikan keterpurukan kita sat ini. Sementara kita menjelaskan teori, mereke kompetitor kita memahami teori lebih baik melalui contoh kasus. Marilah pahami cermin realitas, kebanyak orang belajar secara visual, tapi kita penggerak dkwah berkomunikasi secara abstrak tentang Islam.Itu hanya contoh sederhana, tetapi menjelaskan mengapa gerakan dakwah belum mampu menembus pusaran logika massa, penetrasi jaringan pemikiran, sosiologi dan politik. Sudah sehharusnya gerakan dakwah mampu mengubah, memobilisasi dan mengendalikan massa.

Di tingkat opini publik, Islam dan gerakan dakwah dengan mudah diisolasi tanpa pembelaan spontanitas dari masyarakat. Masyarakat juga sepertinya saat ini belum begitu percaya dengan kemampuan gerakan dakwah beserta para pemimpinnya mengelola negara. Potensi-potensi keunggulan kader Islam memimpin negeri tak diragukan, banyak kader Islam yang unggul dan mampu mengelola sistem. (Tapi masih sangat kecil). Secara keseluruhan, Islam dan gerakan dakwah belum memegang peranan kunci dalam pembentukan kesadaran publik. Hal ini kita memerlukan kerja ekstra. Padahal, pembentukan kesadaran publik terhadap Islam adalah kkkondisi pendahuluan yang mutlak dalam perjalanan menuju kekuasaan.

Rendahnya tingkat penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita, sebenarnya adalah realitas yang berakar pada cara kita berpikir. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan potret realitas kita secara apa adanya. Pikiran adalah ruang kemungkinan (space of possibility) dan realitas adalah ruang tindakan yang telah jadi nyata (space of action). Seluruh realitas kita hanya bergerak pada ruang kemungkinan itu. Makin besar ruang kemungkinannya, makin besar ruang realitasnya. Maka, realitas kita hat\ri ini. Sesungguhnya merupakan buah dari benih pkiran kita yang telah kita tanam bertahun-tahun yang lalu.

Mencermati konflik dengan penguasa yang mewarnai gerakan dakwah, realitas berakar dari kumpulan persepsi harokah tentang penguasa sebagai kumpulan thagut. Begitu persepsi thagut ini menguasai pikiran harokah, sense of war langsung menyalakan alarm perang ketika berhadapan dengan penguasa. Misalnya lagi, fenomena eksklusifnya aktivis dakwah. Fenomena yang berakah dari persepsi bahwa masyarakat kita hidup dalam kubangan jahiliyah modern. Begitu seseorang melekatkan diri sebagai aktivis dakwah, segera saja ia merasakan superioritas spritual dan moral, dan menemukan tembok pemisah.

Keterbatasan dan juga bagian dari ironi besar yang membatasi ruang gerak dakwah kita. Pikiran kita selalu terfokus pada bagaimana menyiasati keterbatasan dana, bukan bagaimana menciptakan kelimpahan. Jika frame keterbatasan selalu menghiasi kehidupan dakwah kita, maka selamanya keterbatasan akan menjadi realitas kita. Maka kita perlu sepakat, bahwa tindakan kita muncul sebagai buah dari benih-benih pikiran kita. Jadi pikiran adalah pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan-tindakan dan menciptakan realitas-realitas kita. Dakwah juga begitu.

Sudah saatnya gerakan dakwah memikirkan kembali caranya berpikir, memikirkan kembali apa yang selama ini dipikirkan. Generasi pertama pemikir dakwah seperti Hasan Al-Bana, ayyid Qutb memfokuskan pada pebangunan ideologi. Generasi kedua seperti Syeikh Yusuf Qardhawian, Fathi yakan, dll memfokuskan perhatian membangun kerangka pemikiran pergerakan. Ketika gerakan dakwah masuk di era keterbukaan, bermain di domain publik, persoalan terbesar adalah sumber daya. Ini persoalan yang dihadapi hampir di seluruh gerakan Islam di dunia yang perlahan menunjukkan diri dari ekstensi pembelajaran. Dengan menggunakan cermin realitas, persoalan sumberaya muncul karena pusat perhatian kita belum bergeser ke tema besar generasi pertama ke generasi kedua.

Kita mungkin masih fokus bicara ideologi, belum kepada sumber daya. Kita masih bicara sistem pemerintah Islam, Khilafah, dsb. Tapi tidak berbicara kompetensi umat. Kita bicara sistem Islam is solution, belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa. Kita masih bicara kegagalan musuh dan belum bicara kesuksesan-kesuksesan kita secara keseluruhan. Dakwah kita masih bicara gazhwul fikri dan belum bicara strategi kebudayaan. Dakwah kita masih bicara konspirasi asing dan belum memikirkan sistem pertahanan dakwah. Kita masih bicara ikhtilaf belum bicara manajemen organisasi yang kokoh. Dakwah kita masih berbicara keterbatasan dana, belum bicara cara menciptakan kelimpahan dana. Dan Dakwah kita masih bicara apa yang kita inginkan dan belum bicara sumber daya yang perlu diperlukan dalam mencapainya.

Selama pusat perhatian kita belum tergeser ke masalah penciptaan sumber daya yang berkualitas, maka selama itu dakwah akan mengalami kemunduran. Ini hanya konsekuensi antara keseimbangan, beban, dan daya pikul. Tampak tua dan lelah, tertatih-tatih memikul beban obsesi khilafah yang terasa jauh.

Kita patut bersyukur para pendiri ideologi dakwah telah meletakkan ideologi yang kokoh bagi umat. Mereka telah merampungkan tugas mereka dengan sempurna sebagai batu tapal kokoh kebangkitan umat. Para pemikir pergerakan juga telah membangun kerangka pemikiran gerakan bagi pertumbuhan gerakan dakwah menuju kematangan. Generasi kedua seperti Yusuf Qardhawi, Fathi Yakan juga telah menjalankan tugas dengan sempurna membangun kerangka pemikiran dan pertumbuhan.

Nah, sekarang tugas kita sebagai generasi ketiga dakwah untuk membawa bendera. Menunaikan tugas sejarah mereka. Generasi pencipta sumber daya. Biarlah ditangan kita kebenaran menjadi nyata, di bumi Allah kita menyatu dengan kekuatan membangun Islam.

Menkominfo Himbau, Tak Ada Siarkan Iklan Rokok Pada 31 Mei

dakwatuna.com – Jakarta. Menteri Kominfo Tifatul Sembiring pada 16 Mei lalu, telah mengirimkan surat No. 338/M.KOMINFO/PI.03.04/05/2013 kepada seluruh Direktur Utama / P
enanggung Jawab Lembaga Penyiaran Radio dan Televisi di seluruh Indonesia.
Surat tersebut mengenai himbauan untuk tidak menyiarkan iklan rokok pada Hari Anti Tembakau Sedunia pada tanggal 31 Mei 2013.
“Surat tersebut selain ditembuskan kepada Presiden RI, juga ditembuskan pula ke Ketua KPI Pusat, Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Ketua Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Ketua Asosiasi Televisi Jaringan Indonesia (ATVJI), Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), dan Ketua Asosiasi Radio Siaran Lokal Seluruh Indonesia (ARSLI),” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S Dewa Broto, Kamis (30/5).
Dalam surat tersebut disebutkan, bahwa setiap tahun pada tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Anti Tembakau Sedunia yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) sejak tahun 1987.
Menurut WHO, peringatan tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan dampak buruk merokok bagi kesehatan manusia dan menghimbau agar masyarakat tidak merokok selama 24 jam serentak di seluruh dunia pada tanggal 31 Mei 2013. (hh/smc)
Redaktur: Saiful Bahri

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/31/34173/menkominfo-himbau-tak-ada-siarkan-iklan-rokok-pada-31-mei/#ixzz2UozOAXE0 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Sabtu, 25 Mei 2013

Ingat 5 Perkara Sebelum 5 Perkara


Kisah Seorang Tukang Kayu

Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari  profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya. Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya. Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, "Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada." Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, "Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!". Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!
Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan bijaksana.

Sebab 

kehidupanmu saat ini adalah
akibat dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari
keputusanmu saat ini.

Bid'ah Bukan dalam Urusan Dunia

"Dikit-dikit dibilang bid'ah, dikit-dikit bid'ah????"

Mau baca surat Yasin tiap malam jum'at, dibilang bid'ah.
Mau dzikir 7777 kali tiap malam Rabu Pahing, dibilang bid'ah.
Ini bid'ah, itu bid'ah, sini bid'ah, sana bid'ah, jangan-jangan kamu juga bid'ah!!! :P 

Kalo naik pesawat untuk pergi Haji dan Umarah itu bid'ah, berarti pergi Haji atau Umrah naik unta lagi aja yaa seperti zaman Nabi dahulu hehe.

Eeeeitts, tapi jangan sampai kejadian seperti itu ya, dan jangan sampe putus asa disitu. Sebelumnya, ada baiknya kita mengetahui apa itu bid'ah?

Sebenarnya, untuk lebih memahami bid'ah kita membutuhkan pembahasan yang cukup panjangn dengan berbagai jenis dan macam serta kaidah-kadiahnya. Tetapi, dalam kesempatan kali ini kami akan membawakan penjelasan ringkasnya agar kita dapat lebih memahami judul dari artikel ini.

Seorang pakar bahasa bernama Al-Fairuz Abadi Rahimullah berkata mengenai pengertian bid'ah (Bid'ah secara ringkas).Berikut ini adalah ulasannya :
-- bid'ah adalah ---
 
"Suatu hal yang baru dalam masalh agama setelah agama tersebut sempurna."             الحدث في الدين بعد الإكمال
"Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil."          ما أحدث في الدين من غير دليل

Dan pengertian yang cukup lengkap sebagaimana dijelaskan Ast-Syathibi dalam kitab Al-I'tisham (kitab yang membahas seluk-beluk bid'ah), dan masih banyak lagi kitab-kitab yang menjelaskan tentang bid'ah tentunya dengan memalui pendekatan-pendekatan yang beragam.

Menurut Ast-Syathibi bid'ah adalah "Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-bua (tanpa ada dalil) yang menyerupai syariat (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah."

Definisi di atas adalah untuk definisi bid'ah  yang khuus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi), adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid'ah, mereka mendefinisikan bahwa bid'ah adalah Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) dan menyerupai syari'at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat kita menjalani syari'at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah SWT).

Dari berbagai penjelasan ulama mengenai pengertian bid'ah, sudah jelas bahwa bid'ah adalah dalam urusan agama, bukan dalam urusan dunia.

"Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak." (H.R. Bukhari). 
 "Siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama lalu tidak didukung oleh dalil, maka ia tidak perlu ditoleh." (Ibnu Hajar Al-Asqalani)
Ibnu Hajar Al-Asqalani juga berkata, "Bid'ah asalahnya adalah apa-apa yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya, dan dimutlakkan dalam syari'at (agama) yang menyelisihi sunnah sehingga menjadi tercela."

Mereka yang tidak paham mungkin rancu dengan istilah bid'ah secara bahasa.  Secara bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Jadi, unsur keduniawian seperti pesawat, HP dan laptop di zaman ini adalah bid'ah secara bahasa, bukan pengertian bid'ah dalam syari'at.

Demikian postingan mengenai bid'ah secara ringkas, semoga menambah pegetahuan lebih bagi diri kita, dapat bermanfaat dalam keseharian kita dalam menebar manfaat dan mencari ridha Allah SWT.

Salam Ukhuwah :)