Hasil Bukan Segalanya
oleh :ilham ramdni
Harap demi harapan seakan dinantikan sesuai dengan apa yang sudah dibayangkan.
Padahal harapan yang kita inginkan belum tentu yang
terbaik untuk kehidupan.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.." (Qs.Al-Baqarah:216)
Namun kodrat manusia senantiasa berharap apa yang kita
harapkan dapat dikabulkan. Tentunya, dalam proses
berharap untuk mencapai keinginan semuanya itu, tidak
bisa dilepaskan dari keterlibatan Allah SWT dalam
memberikan jawaban atas doa dan ikhtiar yang kita
dipanjatkan.
“…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu
kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri…” (Qs.Al-Ra’du:11)
Islam mengajarkan keistimewaan bahwa segala apa yang
diharapkan hingga menjadi kenyataan sebanding lurus
dengan doa, ikhtiar, tawakal yang dilakukan penuh
kesungguhan. Hasil bukanlah segalanya, karena proses
untuk mendapatkannya yang lebih berharga, juga karena
ranah hasil, bukanlah ranah kita sebagai hamba,
melainkan ranahnya Allah SWT dalam menentukan
jawabannya atas ikhtiar, doa dan tawakal hamba-Nya.
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan
sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, kamu pasti akan
menemuinya," (Qs.Al-Insyiqaq:6)
Ikhtiar, doa, dan tawakal adalah satu paket kunci untuk
mendapatkan apa yang kita inginkan. Ikhtiar tidak akan
ada artinya jika tidak disertai dengan doa, begitu juga
dengan doa yang kita panjatkan, tidak akan ada artinya
jika kita tidak berikhtiar dan bertawakal penuh
kesungguhan. Semuanya saling berkaitan dan punya
fungsinya dalam kehidupan. Berdoa merupakan wujud
bahwa Allahlah yang menentukan segala hasil dari Ikhtiar
kita. Sedangkan ikhtiar merupakan wujud aksi kita untuk
meraih keinginan dan harapan. karena ikhtiar itu adalah
bergerak bukan diam dan membutuhkan aksi nyata dan
penuh kesungguhan. man jadda wa jadda (siapa yang
bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil).
Selain kesungguhan dalam berdoa, berikhtiar dan
bertawakal, juga harus diiringi dengan tujuan yang suci
yaitu semata-mata karena ingin mendapat ridho Allah
SWT. Sejatinya, ketika ridho Allah yang menjadi tujuan
sebagai pengiring doa, ikhtiar dan tawakal untuk
mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, maka senantiasa
kita harus mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana
pesan Ibn Athaillah “Bagaimana engkau menginginkan
sesuatu yang luar biasa, padahal engkau sendiri tak
mengubah dirimu dari kebiasaanmu?"
Sadarlah bahwa selama ini kita terjebak akan doa yang
panjatkan, kita senantiasa mengharapkan dan
menginginkan yang terbaik dari Allah, tetapi kita begitu
jarang meminta dan berusaha untuk bisa menjadi lebih
baik lagi. Maka selain kesungguhan dan tujuan sebagai
pengiring doa, ikhtiar dan tawakal kita untuk sesuatu yang
kita inginkan, alangkah lebih baiknya jika kita iringi pula
dengan upaya memperbaiki diri.
Namun, bagaimana jika doa, ikhtiar dan tawakal yang
sudah kita lakukan penuh kesungguhan, kejelasan tujuan
bahkan diiringi juga dengan perbaikan diri, untuk
mendapatkan keinginan yang kita harapkan, tetapi
hasilnya tak kunjung datang?. Ingatlah bahwa Allah
memiliki skenario yang indah atas jawaban dari doa,
ikhtiar dan tawakal hamba-Nya melalui hal yang tak
diduga-duga, melalui arah yang tidak disngka-sangka,
bahkan diluar nalar dan logika.
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-
sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs.At-Thalaq:3)
Jangan pernah sungkan dan enggan untuk berdoa,
berikhtiar dan bertawakal kepada Allah SWT. Karena
yakinlah bahwa Allah menyaksikan setiap bagian-bagain
proses yang kita lakukan. Allah Maha Mengetahui, dan
tentunya Allah mengetahui apa yang kita minta, Allah
mengetahui apa yang kita Inginkan, Allah pun mengetahui
apa yang kita harapkan. Tetaplah berdoa, berikhtiar dan
bertawakal karana itulah yang berharga, dan bukan hasil
yang segalanya.





