Senin, 29 September 2014

Solusi itu Tarbiyah

            Pendidikan Karakter

Oleh: Yoga Julian P
Pada dasarnya manusia akan memilih jalan yang lebih nyaman. Ketika ada seseorang yang ingin pergi ke suatu daerah maka menjadi suatu yang wajar dan manusiawi.  Orang itu akan melalui jalan yang dengan lintasan terpendek dan melalui jalan yang terasa nyaman bagi dia. Demikian juga hidup, di sana seseorang akan menghadapi berbagai caobaan dunia, cobaan dalam setiap aktivitas hidupnya. Manusia akan dihadapkan dengan kondisi bahwa hidup itu adalah pilihan. Manusia jika diberikan pilihan antara menjadi kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rendah, , pasangan hidup yang sesuai serta pilihan-pilihan lainnya. Dan cara-cara untuk untuk mengapai pilihan-pilihan itu juga terdapat banyak pilihan lagi. Dari segi jenis usahanya pun terdapat pilihan-pilihan, serta dari jenis cara membuat usaha itu bisa sukses, juga terdapat berbagai cara. Dari hal ini maka kita sadari bahwa banyak pilihan di sepanjang manusia hidup.
Dalam didunia remaja, pilihan hidup yang diambil oleh mereka, terdapat beberapa kondisi yang spesial. Karena pilihan hidupnya lebih banyak dipengaruhi dengan kondisi lingkungannya, baik dari orang-orang di sekitar maupun masalah-masalah yang dialami oleh orang yang bersangkutan. Karena saat remaja, kondisi kejiwaan mereka masih mudah labil dan mudah dipengaruhi
Pada permasalahan remaja dengan menfokuskan masalah ke pelajar sekolah. Contoh kasus adalah tawuran. Tawuran pelajar sekolah menjadi potret buram dalam dunia pendidikan Indonesia. Pada 2010, setidaknya terjadi 128 kasus tawuran antar pelajar. Angka itu melonjak tajam lebih dari 100% pada 2011, yakni 330 kasus tawuran yang menewaskan 82 pelajar. Pada Januari-Juni 2012, telah terjadi 139 tawuran yang menewaskan 12 pelajar.
Kasus tawuran ini tentu menarik perhatian dari setiap lapisan masyarakat yang berada di negara ini. Sekjen FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia), Retno Listyarti, menilai penanganan tawuran pelajar selama ini diselesaikan dengan menggunakan prinsip 'pemadam kebakaran'. "Artinya hanya ditangani ketika ada kasus dan korban, sementara akar permasalahannya tidak pernah dicari apalagi diselesaikan," ujarnya dihubungi Selasa (12/11).
Dalam penanggulangan fenomena tawuran, perlu dilakukan kebijakan mengatasi faktor-faktor akar permasalahan yang mempengaruhi berkembangnya perilaku tawuran.
Ekpresi Naluri Agresi
Tawuran merupakan salah satu bentuk perilaku agresi, karena dalam tawuran terdapat perilaku baik fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti dan merugikan orang lain.
Akibat Frustasi
Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya, salah satunya tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.
Informasi Adegan Kekerasan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga “games” atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya.
Seputar kecerdasan emosional (EQ) Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyampaikan bahwa “ kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya yang 80% ditentukan oleh serupun faktor-faktor yang disebut Emosi Qoutient. Namun ada kondisi dimana seseorang tidak dapat mengontrol EQ tersebut. Terutama pada kalangan pelajar dimana IQ mereka sedang dalam perkembangan dan pengontrolan EQ mereka belum stabil. Ini bisa jadi salah satu hal yang menyebabkan kekerasan maupun tawuran antar pelajar dimana setiap siswa belum dapat mengontrol EQ mereka satu sama lain. Sehingga ketika ketidak stabilan tersebut dibarengi dengan lingkungan yang tidak dapat mengendalikan maka kekerasan sudah dapat dipastikan menjadi jalan dimana mereka mengeluarkan kebuasan emosi dari dalam diri mereka.

Dalam hal ini, hal yang dapat menjaga untuk menjaga kedaan remaja, maka perlu memperhatikan keadaan banyak yang terjadi di karenakan krisisnya rukhiyah, dalam hal ini berarti SQ (Spiritual Qoutient). Ketika kondisi rukhiyah seseorang dalam kondisi baik maka dia tidaklah berani melakukan perbuatan-perbuatan tercela karena keyakinannya terhadap hukum akhirat sangat baik. Dengan demikian orang tersebut akan senantiasan menjaga dirinya dari hal-hal yang dilanggar Sang Pencipta Alam, yang peraturan-Nya pun juga merupakan peraturan yang mengandung kebagikan semua.
Dalam penjagaan rukhiyah ini, terdapat beberapa jenis metode. Ada yang berbentuk tabligh akbar, tasqif,majelis ta’lim. Untuk zaman di era modern, ada suatu metode yang secara signifikan dirasakan begitu berhasil. Metode ini menghasilkan orang-orang yang wara (senantiasa menjaga dirinya agar tidak berbuat diluar batas-batas koridor), dimana proses ini dinamakan metode Tarbiyah yang telah mengubah karakter-karakter orang yang berada di dalamnya menjadi lebih kuat.
Proses tarbiyah yang dilakukan dalam menyelesaikan problem di atas, sehingga para remaja bisa memperoleh kepribadian yang utuh. Dimulai dari aqidah yang kuat(yakin dan meyakini adanya Zat Maha Pencipta yang harus dikuti ketetapan-Nya), ibadah yang benar, Karakter yang kokoh, jasmani yang bugar, intelek dalam berfikir, pandai mengendalikan hawa nafsu(sehingga terjaga dari hal-hal yang mendorongnya berbuat diluar batas) , pandai menjaga waktu, teratur dalam segala urusan, mandiri dari segi ekonomi, bermanfaat bagi orang. Ini adalah target dari proses tarbiyah. Metode tarbiyah yang dilakukan kepada pelajar adalah dengan sarana mentoring dan telah dappat dilihat hasil dari tarbiyah ini. Semakin tumbuh pelajar-pelajar yang memiliki kepribadian yang baik, karena Islam menjadi asas yang mereka bawa.
Referensi :
http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/29/akar-masalah-tawuran-pelajar-497567.html
http://twins-mysoftskill.blogspot.com/2013/01/analisa-kekerasan-pelajar.html
http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62132/2012/09/27/data_tawuran_pelajar_selama_20102012.tvOne
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/11/13/mw6ayu-fsgi-tawuran-pelajar-perlu-diselesaikan-akar-masalahnya