Sabtu, 20 September 2014

Tentang Iman

Al-Iimaan...
Bagaimanapun iman adalah sesuatu yang abstrak, sangat tak tersentuh bagaimanapun "physical disturbance" yang diberikan untuk melihat ukuran dan faktor yang mempengaruhinya. Namun ia begitu terasa memancar hingga berpengaruh kepada sekelilingnya. Bersyukurlah kita yang masih bisa merasakan pancaran keimanan seseorang, memaknai bahwa kita bukanlah apa-apa tanpanya. Memaknai dan mensyukuri bahwa jiwa ini belum kehilangan rasa atas sebuah nikmat terbesar bernama iman.

Ada hadits shahih yang berbunyi, "Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, .... (dan seterusnya).. hendaklah ia ubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman."

Ketika iman hanya dipusakakan dalam hati, ia menjadi kecil, kerdil, tak ada daya. tak mampu mengubah sekeliling, hingga terjadi "perang saudara"antara iman dan logika. Keduanya tak harmoni berinteferensi destruktif yang berujung pada kematian jiwa. Hisab pada akhirnya memang menjadi urusan pribadi dan menjadi hak prerogatif Allah azza wa jalla atas penempatan kita di akhirat kelak.

Sesekai... Mungkin kita merasa tak ada peduli atas keimanan orang-orang di sekitar kita, karena pada akhirnya toh ini adalah urusan orang per orang. Namun, di sisi lain Allah SET juga memberi keutamaan yang besar bagi "para pemberi hadiah keimanan" yang sering kita sebut Da'i Al-Ajru Minallah. Ganjarannya diberikan oleh sebaik-baik pemberi ganjaran...